Minggu, 07 Maret 2010

Hasan Hanafi

BAB. I PENDAHULUAN
Karya produktif manusia selalu mengalami perubahan setiap zamannya. Ketika generasi terdahulu kita berhadapan dengan zaman pra sejarah, banyak peninggalan-peninggalan pra sejarah yang pada masa kini kita mengaanggap sebagai suatu hal yang sepele. Sebut saja alat pemotong daging hewan mangsaan yang pada awalnya adalah batu lonjong, kemudian berangsur-angsur berubah sedikit demi sedikit menjadi batuan lancip hingga pada akhirnya kita menemukan alat pemotong pisau.
Tak bisa dipungkiri, hal seperti ini selain sering terjadi pada produk karya manusia, ternyata juga menyentuh ranah pemikiran filsafat dan berbagai objek ilmu pengetahuan. Ketika para terdahulu kita mempercayakan warisan berbagai macam peninggalan ilmiah tertulis yaitu turas akan tetapi di lain pihak fenomena modernisasi turut juga menuntut kita untuk mampu mengkolaborasi pemikiran Islam terdahulu supaya tetap eksis pada masa kini.
Di tengah proses komparasi Islam dan modernitas tersebut, hadir sosok Hasan Hanafi dan Muhammad Arkoun yang merupakan salah satu pembaharu pemikiran Islam.dengan berbagai pola pikirannya yang mengisi khazanah di dunia Islam.










BAB. II PEMBAHASAN
A. Hasan Hanafi
1. Riwayat hidup
Hasan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935, di Kairo, dekat benteng Salahudin, sebuah perkampungan di Al-Azhar. Keluarganya berasal dari Banu Swaif, Mesir Selatan, dan kemudian pindah ke Kairo.
Ketika berusia lima tahun, Hanafi mulai menghafal al-Quran dibawah bimbingan Syaikh Sayyid. Jenjang pendidikan dasarny dilaluinya di Madrasah Sulaeman Ghawish. Setelah itu, diteruskan di sekolah Guru al-Mua’limin. Pada tanggal 11 Oktober 1956, Hanafi meraih gelar sarjana dari kulliyat al-adab (Fakultas Sastra) Universitas Kairo. Di sini, ia sempat mendalami seni music.
Sedangkan gelar doktor dia raih pada 1966 di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis dengan disertasi berjudul Essai Sur la Methode d'exegese (Essai tentang Metode Penafsiran). Pada 1971, disertasi ini memperoleh hadiah sebagai karya tulis terbaik di Mesir. Dari Paris, ia kembali ke almamaternya, Universitas Kairo dan mengajar filsafat Islam. Ia kini dipercaya sebagai ketua jurusan program tersebut.
2. Ide Pemikiran Hasan Hanafi
Sebagai pemikir dan filosof Islam, Hasan Hanafi menanamkan model baru dalam memahami khazanah Islam klasik. Pemikirannya tergolong multi-lintas, dan ini merupakan cirri khas gagasannya. Begitu juga dan aspek pembelaan atas pemikiran Islam yang dianggapnya terpinggirkan. Hasan Hanafi tergolong pemikir yang anti kemapanan. Ia selalu berada digaris minoritas kalau tidak tergolong melawan arus. Ketika semua orang menyokong kemapanan, ia berbailk membela kegelisahan. Ketika semua orang berada di pusaran sentralis, ia justru mengambil sikap pinggiran dan seterusnya. Corak pemikiran demikian, dianggap wacana baru, kontemporer, walaupun Hasan Hanafi sendiri menggagasnya sudah cukup lama, dengan karyanya yang berjudul “Kiri Islam”. Pengalaman dan aktivitasnya dalam gerakan dan organisasi, juga kecendikiawannya, menjadikan Hasan Hanafi fasih dalam mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dan berdimensi pembelaan.
Pemikiran itulah yang kelak menjadi perbincangan banyak kalangan. Meskipun banyaj yang mendukung, namun tidak sedikit yang mengkritik atau paling tidak menggugah keabsahan istilah Hasan Hanafi yang menggunakan “Kiri Islam” sebagai suatu identifikasi kesahihan Islam. Bagi kalangan yang mengkritik ide Hanafi, berprinsif bahwa Islam tidak mengenal kiri atau kanan, Islam tetaplah satu, dengan Tuhan yang satu juga. Namun bagi Hanafi, hal itu hanya ada dalam tataran ideologis. Sedangkan secara realitas historis, umat Islam dihadapkan pada suatu pergumulan dan perbenturan berbagai kepentingan dan kekuatan, dan umat Islam hampir saja selalu berada di pihak yang terpinggirkan (kiri). Akan tetapi, sejumlah kalangan menganggap Hasan Hanafi memiliki gagasan rasional, butiran-butiran besar dan berwawasan radikalistik.
3. Latar Belakang Kiri Islam
Semula, “Kiri Islam” adalah nama sebuah jurnal berkala yang diterbitkan Hanafi pada tahun 1981. Nama lengkapnya adalah Al-Yasar al-Islami: Kitabat fi al-Nadhahah al-Islamiyyah (Kiri Islam: Esai tentang Kebangkitan Islam). Dalam jurnalnya ini, Hanafi menjelaskan bahwa dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam (tauhid), dan kesatuan umat Islam, diperlukan tiga pilar sebagai penopang kiri Islam. Pilar pertama adalah revitalisasi dan rasionalisasi khasanah Islam klasik (al-turats). Pilar kedua, adalah perlunya menentang peradaban Barat. Hanafi memperingatkan bahaya imperialism cultural Barat dan mengusulkan orientalisme guna mengakhiri mitos peradaban Barat. Sedangkan pilar ketiga adalah analisa terhadap realitas dunia Islam. Menurut Hanafi, dua hal yang menjadi ancaman dunia Islam kini adalah, dari luar Islam sendiri yaitu imperialism, zionisme, dan kapitalisme. Sedangkan ancaman dari dalam Islam adalah kemiskinan, ketertindasan, dan keterbelakangan. Dan inilah yang menjadi focus perhatian dari Kiri Islam, yang pada akhirnya kemudian menjadi trade mark pemikiran Hasan Hanafi.
Istilah “kiri” itu sendiri dipilih oleh Hanafi dengan penuh pertimbangan, setelah sebelumnya melakukan kajian terhadap berbagai istilah yang terkait dengan pemikirannya ini seperti Shahwah atau Yaqzhah (kebangkitan), al-Taqaddun al-Islamy (kemajuan Islam) atau al-Harakah al-Islamiyyah (Gerakan Islam) dan sebagainya. Namun Hanafi merasa istilah-istilah tersebut kurang bias mewakili apa yang menjadi spirit gagasan dan konsep pemikirannya. Maka ia pun memilih istilah al-Yasar al-Islamy (Kiri Islam), dengan berbagai analisa dan pertimbangannya.
Bagi Hanafi, kiri memiliki konotasi ilmiah. Dalam terminology politik, istilah ini sering diartikan sebagai oposisi (al-Mu’aradhah), kritik (al-naqd), juga menjelaskan tentang sesuatu yang ada (al-Waqi’) dengan yang seterusnya (al-mitsal). Penggunaan istilah kiri oleh Hanafi lebih mencerminkan sebuah realita dalam masyarakat muslim yang terbelah menjadi dua kelompok yaitu, antata penguasa dan rakyat, si kaya dan si miskin, yang memiliki dua kepentingan yang sangat bersebrangan. Bagi Hanafi, kelompok kiri Islam adalah representasi dari kaum tertindas, dikuasai, miskin, dan termajinalkan.
Kiri Islam lahir setelah berbagai metode pembaharuan masyarakat kita dalam beberapa generasi hanya menghasilkan keberhasilan yang relative, bahkan untuk sebagiannya gagal terutama dalam mengentaskan masalah keterbelakangan. Hal ini disebabkan karena pertama, berbagai tendensi keagamaan yang terkooptasi kekuasaan menjadi Islam hanya sekedar ritus dan kepercayaan-kepercayaan ukhrowi. Padahal realitas Islam bukan merupakan representasi dan system Islam, sehingga gebyar ritus dan kepercayaan-kepercayaan itu justru menjadi topeng yang menyembunyikan wajah dominasi barat dan kapitalisme nepotisme. Sedangkan kecenderungan keagamaan lain tidak terkooptasi, terjebak kedalam fanatisme primordial, kejumudan, dan berorientasi kekuasaan. Kedua, liberalism yang pernah berkuasa sebelum masa-mas revolusi yang terakhir, ternyata didikte oleh kebudayaan barat, berprilaku seperti penguasa colonial dan hanya melayani kelas-kelas elit yang menguasai asset Negara. Sementara mayoritas rakyat ditempatkan di luar lapangan permainan yang hanya ada dalam kerja-kerja revolusi. Ketiga, marxisme yang mewujdkan keadilan social dan menantang kolonialisme, ternyata tidak diikuti dengan pembebasan rakyat dan pengembangan khazanah mereka sebagai energy untuk mewujudkan tujuan-tujuan kemerdekaan nasional. Keempat, nasionalisne revolusioner yang berhasil melakukan perubahan-perubahan radikal dalam system politik dan ekonomi ternyata tidak mempengaruhi kesadaran mayoritas rakyat. Kiri Islam lahir dalam rangka merealisasikan tujuan-tujuan pergerakan nasional dan prinsif-prinsif revolusi sosialis.
Kiri Islam juga mendapat inpirasi dan keberhasilan revolusi Islam akbar di Iran yang mengejutkan dunia. Dimana rakyat muslim tegak kokoh melawan tekanan militer dan menumbangkan Rezim Syah atas nama “Islam” dan “kekuatan” Allah Yang Maha Besar, penumpas kaum otoriter, revolusi ini dapat disejajarkan dengan dua revolusi besar lain yaitu revolusi Prancis dan Bolsjevik, serta menjadi satu model bagi revolusi keyakinan pada akhir abad XIV. Kiri Islam juga merupakan resultan dan gerakan-gerakan kaum muslimin di Afghanistan, Melayu, Pakistan dan revolusi Aljazair untuk memunculkan Islam sebagai khazanah nasional, yang memelihara otensitas dan kreativitas kaum muslimin juga memperjuangkan rakyatmuslim setempat.
4. Karya-Karya Hasan Hanafi
Ia sekurang-kurangnya pernah menulis 20 buku dan puluhan makalah ilmiah yang lain. Karyanya yang popular ialah Al-Yasar al-Islami (Islam kiri), Min al-`Aqidah ila al-Thawrah (Dari Teologi ke Revolusi), Turath wa Tajdid (Tradisi dan Pembaharuan), Islam in The Modern World (1995), dan lainnya. Ternyata, Hasan Hanafi bukan sekadar pemikir revolusioner, tapi juga reformis tradisi intelektual Islam klasik.
B. Muhammad Arkoun
1. Riwayat Hidup
Muhammad Arkoun lahir pada 1 Februari 1928 di Taourirt-Minoun, Kabilia, sebelah timur, Aljir, suatu daerah yang terletak di pegunungan Berber. Suasana tanah kelahirannya ini sedikit banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan intelektual Arkoun, terutama keahliannya menguasai beberapa bahasa.
Setelah merampungkan sekolah menengah atas di Oran, Kabilia, Muhammad Arkoun belajar di universitas Aljir untuk mendalami bahasa dan sastra (1950-1954). Namun saat terjadi perang Aljazair melawan Prancis. Arkoun melanjutkan studinya di Prancis dan menekuni bahasa dan sastra Arab. Tahun 1956-1959, Arkoun menjadi guru sekolah menengah atas di Strasbourg. Tahun 1969, ia memperoleh gelar doctor dengan disertasinya berjudul, “Humanisme dalam Pemikiran Ibnu Maskawih”. Ketajamannya pemikirannya dan pemahamannya terhadap berbagai problema umat Islam, serta penguasaannya terhadap pengetahuan dan peradaban barat yang semakin terasah ketika tinggal di Prancis, menjadikan ia dipercaya untuk mengajar di berbagai universitas di sejumlah Negara. Ia sempat menjadi dosen dan guru besar ilmu Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Lyon, Aljazair pada tahun 1969-1972, juga universitas negeri Belanda di Amsterdam pada tahun 1993.
2. Karya-Karya Muhammad Arkoun
Kebanyakan karya Arkoun ditulis dalam bahasa Prancis. Ia memang tak banyak menulis dalam bahasa Inggris. Dalam bentuk buku, satu-satunya karya Arkoun dalam bahasa Inggris adalah Rethinking Islam Today, 1987, buku kecil yang semula merupakan bahan ceramahnya di Center for Contemporary Arab Studies, Universitas Georgetown, Amerika Serikat. Dalam bahasa Indonesia, satu-satunya buku Arkoun adalah Nalar Islam dan Nalar Modern; Tantangan dan Jalan Baru yang memuat beberapa artikelnya. Karyanya yang lain antara lain adalah Lectures de Coran, (Telaah Tentang Al-Quran), La Pense Arabe, (Dunia Pemikiran Arab), dan masih banyak lagi.
3. Ide Pemikiran Muhammad Arkoun
Arkoun mempunyai keunikan tersendiri dalam menggagas pemikirannya. Ia nampaknya memahaminetul tentang barat dengan segala seluk beluknya. Kebanyakan pemikirannya selain terilhami oleh gagasan-gagasan barat kontemporer juga upayanya untuk menghihdupkan pemikiran Islam dalam model dan corak baru. Namun begitu, ia tetap bersikap kritis terhadap para orientalis. Menurut Arkoun, kaum orintalis sering sekali bertolak dari prasangka yang salah terhadap Islam. Oleh karena itu, Arkoun hendak menggantikan Islamoogi Barat yang klasik dengan Islamologi terapan. Idenya ini ia tuangkan dalam bukunya, Pour Une Islamologie Appliquee (Untuk Islamologi Terapan). Tujuannya adalah untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan dan membebaskan pemikiran Islam dari berbagai tatanan usanga dan mitologi yang menyesatkan.
Arkoun juga sangat concern terhadap masalah-masalah ekonomi, social, dan politik. Menurutnya, ada kesulitan besar bagi umat Islam untuk mengawinkan sikap yang berorientasi ke masa lalu, yang mendambakan ideology Islam yang otentik, dengan sebuah peradaban modern.
Arkoun menganjurkan untuk melakukan usaha pembebasan atas pemikiran Islam dan kejumudan dan ketertutupan dengan pendekatan kajian historis dan kritis dengan perangkat pemikiran ilmu pengetahuan barat mutakhir. Ia menggabungkan dalam berbagai karya antara pemikiran Islam dengan berbagai ilmu pengetahuan barat mutkhir guna membebaskan Islam dari kejumudan dan ketertutupan, agar umat Islam bisa menghadapi tantangan modern. Landasan utama adalah pengetahuan modern yang menjadi pendekatan Arkoun terhadap Islam, karena menurutnya, sejarah masyarakat Islam sangat berkaitan dengan masyarakat barat. Tidak ada dikotomi antara pemikiran barat dengan pemikiran Islam. Keduanya harus dihargai.
Menurut Arkoun, masuknya modernitas ke dunia Islam melewati suatu proses yang disebut “seruan” atau melalui kekerasan yang bersifat militer. Untuk pertama kalinya hal itu terjadi melalui peristiwa sejarah yang sudah sangat popular, yakni ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir (1798-1801). Semenjak itu modernitas tidak saja menimbulkan implikasi positif di dunia Islam, tetapi juga sejumlah problem dan tantangan, apalagi mengingat sudah semakin banyaknya kemajuan barat yang tak terpikirkan olehb kaum muslim. Tantangan tersebut juga akan bertambah banyak seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di Barat.
Catatan yang penting dalam pemikiran Arkoun adalah perlunya kesadaran dan daya kritis tinggi untuk mencermati khazanah pengetahuan barat yand dipakai dalam mengkaji nilai Islam. Selain itu juga, ia ingin menyatukan semua perbedaan identitas sesama umat Islam dalam bahkan dengan non muslim.
Kata Islam, demikian Arkoun, oleh banyaj kalangan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis dengan arti tunduk, patuh (istislam), penerjemahan ini menurut Arkoun sama sekali tidak benar. Orang beriman itu bukan tunduk patuh dihadapan Allah tetapi ia merasakan getaran cinta kepada Allah dan rasa ingin menyadarkan diri kepada apa yang diperintahkannya. Ia juga menjelaskan perbedaan antara pengertian Islam al-Quran, Islam para ahli fiqih, dan Islam seperti tercermin dalam berbagai aliran teologi.
Arkoun menganjurkan untuk melakukan usaha pembebasan atas pemikiran Islami dan kejumudan dan ketertutupan dengan pendekatan kajian histories dan kritis dengan perangkat pemikiran ilmu pengetahuan barat mutakhir.
Ia menggabungkan dalam berbagai karya antara pemikiran Islam dengan berbagai ilmu pengetahuan barat mutakhir guna membebaskan Islam dri kejumudan dan ketertutupan agar umat Islam bisa menghadapi tantangan modern. Landasan utama adalah pengetahuan modern yang menjadi pendekatan Arkoun terhadap Islam, karena menurutnya, sejarah masyarakat Islam sangat berkaitan dengan masyarakat barat. Tidak ada dikotomi antara pemikiran barat dnegan pemikiran Islam. Keduanya harus dihargai.
Menurut Arkoun, masuknya modernitas ke dunia Islam melewari suatu proses yang disebut “seruan” atau melalui kekerasan yang bersifat militer. Untuk pertama kalinya hal itu terjadi melalui peristiwa sejarah yang sudah sangat popular, yakni ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir (1798-1801). Semenjak itu modernitas tidak saja menimbulkan implikasi positif di dunia Islan, tetapi juga sejumlah peoblem dan tantangan, apalagi mengingat sudah semakin banyaknya kemajuan barat yang tak terpirkirkan oleh kaum muslim. Tantangan tersebut juga akan bertambah banyak seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di Barat.


PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935, di Kairo, dekat benteng Salahudin, sebuah perkampungan di Al-Azhar. Keluarganya berasal dari Banu Swaif, Mesir Selatan, dan kemudian pindah ke Kairo
Hasan Hanafi menanamkan model baru dalam memahami khazanah Islam klasik. Pemikirannya tergolong multi-lintas, dan ini merupakan cirri khas gagasannya. Begitu juga dan aspek pembelaan atas pemikiran Islam yang dianggapnya terpinggirkan. Hasan Hanafi tergolong pemikir yang anti kemapanan. Ia selalu berada digaris minoritas kalau tidak tergolong melawan arus. Ketika semua orang menyokong kemapanan, ia berbailk membela kegelisahan.
Muhammad Arkoun lahir pada 1 Februari 1928 di Taourirt-Minoun, Kabilia, sebelah timur, Aljir, suatu daerah yang terletak di pegunungan Berber. Suasana tanah kelahirannya ini sedikit banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan intelektual Arkoun, terutama keahliannya menguasai beberapa bahasa.
Kebanyakan pemikirannya selain terilhami oleh gagasan-gagasan barat kontemporer juga upayanya untuk menghihdupkan pemikiran Islam dalam model dan corak baru. Namun begitu, ia tetap bersikap kritis terhadap para orientalis. Menurut Arkoun, kaum orintalis sering sekali bertolak dari prasangka yang salah terhadap Islam. Oleh karena itu, Arkoun hendak menggantikan Islamoogi Barat yang klasik dengan Islamologi terapan. Idenya ini ia tuangkan dalam bukunya, Pour Une Islamologie Appliquee (Untuk Islamologi Terapan).










DAFTAR PUSTAKA

Fattah Wibisono, Abdul. Pemikiran Para Lokomotif Pembaharuan di Dunia Islam, 2009.Ciputat: Rabbani Press,.

http://dedeiswadi.blogspot.com/2009/05/sekularisasi-islam-dan-pemikiran.html
K:\hasanhanafi.htm (Rabu: 23-12-2009)
http://ummahonline.wordpress.com/2007/10/25/hasan-hanafi-memperkenalkan-islam-kiri/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar